Kemangi

Besar di Jawa Barat menjadikan lidah saya Sunda sekali, sulit rasanya beradaptasi dengan masakan Bali, terlalu berbumbu rasanya -padahal kata suami enak sekali masakan Bali dibanding masakan lainnya. Ya karena sudah terlanjur lidah ini sunda banget apalah bisa dikata, makan lalapan jadi kesukaan tak lupa temannya si kerupuk dan sambal. Awalnya menanam kemangi di halaman, tapi kali ini saya mencoba menanam di pot, hasilnya wah.. gemuk gemuk kemangi saya, oya suami selalu menyisihkan pupuk kandang untuk saya 1 karung (sekitar 20 Kg) setiap kali dia memupuk kebun, tentu saja si kemangi dalam pot ini sangat menyukai “makanannya”.

10931238_10203116975557362_6717941868599662973_n

Burung Hantu (Owl)

Pagi itu, saat suami akan memberi makan ayam dikandang dia menemukan burung hantu yang tersangkut di jaring jala (kami melepaskan ayam dalam satu area kurang lebih 5 are, yang kemudian dikelilingi pagar kawat jaring dan diatas pagar kawat itu  dipagari lagi dengan jaring jala agar ayam tidak terbang). Burung hantu yang ada ditempat saya ukurannya kecil, dalam bahasa bali burung ini namanya Celepuk , lucu ya melihat ukuran matanya.

10406993_10203114918225930_5360218205228668857_nSetelah dilepaskan, kakak senang sekali melihat kawan barunya ini, tapi tentu saja tidak kami pelihara karena lebih baik bebas dialam. Oke diajak berpose sedikit saja untuk bikin rasa penasaran kakak akan burung hantu terpuaskan. Jepret….  hihihi lucu ya mereka

Anak-anak dan harinya

Waktu kecil mendengar orang dewasa bilang kalau anak-anak itu bahagia, tidak memikirkan masalah didunia hanya bermain saja dalam hidupnya. sekarang setelah saya dewasa (tua tepatnya, mungkin benar juga pernyataan itu, tapi dipikir lagi dunia kerja dan masyarakat yang kita hadapi memang tidak mudah, nah kita tahu hidup itu tidakmudah jadi untuk apa dibikin susah lagi? Bukankah cukup jalani saja, jangan dibuat beban, karena apapun kita serahkan pada yang kuasa.

Ini adalah beberapa aktivitas dari anak-anak saya yang membuat saya sangat berpikir untuk melarutkan diri saya dalam semua masalah ala ‘orang dewsa’. Rasanya lebih indah jika hidup dalam keceriaan, banyak hal yang saya petik kala melihat anak-anak bermain.

Menyiram bibit, meskipun sederhana tapi ketika Kakak mengajak adik yang tengah duduk di sepeda untuk melihat aktivitasnya, membuat saya tersenyum dan tersenyum

Menyiram bibit, meskipun sederhana tapi ketika Kakak mengajak adik yang tengah duduk di sepeda untuk melihat aktivitasnya, membuat saya tersenyum dan tersenyum

20150314_152416

Menjelajah kebun bersama Bleki, membuat kakak merasa nyaman dan aman, bagi kami Bleki adalah pengawas yang handal

20150314_151512

Memetik bunga bawang-bawangan (lili hujan) yang banyak bertebaran di kebun, menjelajah alam, kembali bermain dengan alam, jauh dari dunia gadget dan game.

20150215_155438

Raveena berpose sejenak, senyuman anak-anak selalu bisa menghilangkan semua penat yang ada dalam diri.

Ketemu Muka Dengan Sahabat Pena 2

Perjalanan ke Bali Barat dimulai… tuuut…tuuuut…

Awalnya saya bingung memlih penginapan yang cocok untuk Ibu Barbel, beberapa teman menyarankan Medewi sebagai pilihan yang bagus untuk wisman, banyak homestay di tepian pantai berpasir hitam yang bisa menjadi pilihan, selain itu dia tak akan terlalu kesepian disana karena biasanya ada saja beberapa wisman yang menginap dikawasan itu. Perjalanan tiga jam dari Denpasar, sampailah kami di Medewi (Kecamatan Pekutatan), jam sepuluh malam, kami berpamitan dan akan saya jemput esok hari.

Kirana dan Adik saya, saat menjemput ibu di Homestay, meskipun kecil tapi cukup nyaman bagi Ibu

Kirana dan Adik saya, saat menjemput ibu di Homestay, meskipun kecil tapi cukup nyaman bagi Ibu

Undangan Makan siang dari Ibu disambut girang oleh Kirana, es jeruk nya enak katanya

Undangan Makan siang dari Ibu disambut girang oleh Kirana, es jeruk nya enak katanya

Hari ini rencananya akan saya ajak kerumah, perjalanan dari Desa Medewi ke Dusun saya makan waktu 40 menitan, hamparan sawah di dekat Pura Rambut Siwi menarik hati Ibu untuk melihat lebih dekat.

Melihat Sawah dari dekat, hamparan sawah di dekat Pura Rambut Siwi mengundang rasa penasaran Ibu Barbel

Melihat Sawah dari dekat, hamparan sawah di dekat Pura Rambut Siwi mengundang rasa penasaran Ibu Barbel

Ibu Barbel dan hamparan padi

Ibu Barbel dan hamparan padi , jepret..jepret..

Kirana Marah, katanya ingin melihat jukung (kapal nelayan)

Kirana Marah, katanya ingin melihat jukung (kapal nelayan)

Lanjut, perjalanan menuju ke rumah .. yuhuuuuu

Saya ajak Ibu ke kebun, bagi kami biasa saja, bayam yang tumbuh liar, cabe liar, pohon kunyit, jahe, lengkuas, kata Ibu hal itu sangat menarik karena apapun yang kita mau tinggal petik saja, dia mengatakan bahwa di negaranya kunyit mahal, tapi di rumah kamu tinggal petik saja dan masih segar.

Pohon kunyit, cabut dulu satu biar ibu yakin ini pohonnya

Pohon kunyit, cabut dulu satu biar ibu yakin ini pohonnya

Tahu coklat kan? Pohonnya Tahu? Nah mumpung ada buahnya mari cari dan rasakan biji cacao basah

Tahu coklat kan? Pohonnya Tahu? Nah mumpung ada buahnya mari cari dan rasakan biji cacao basah.

Belum selesai perjalanan kita dengan  Sang Bocah petualang dari Jerman, mari lanjutkan perjalanan di bagian selanjutnya, untuk kali ini sekian dulu …

Ketemu Muka Dengan Sahabat Pena 1

Beberapa orang mungkin sudah pernah bahkan sudah sering merasakan, tapi saya, baru pertama. Berteman lewat surat bisa dibilang belum belum lama, kisaran 3 tahunan, selama itu memandang tulisan tangan dan kartupos unik yang dia kirimkan, ah jaman sekarang, tentu saja di media sosial sudah pasti juga jadi tempat kita melihat satu sama lain. Jadi bolehkah saya mengatakan bahwa saya sangat beruntung, karena selain melihat wajah dan kota tempat tinggalnya juga saya banyak dikirimi tulisan tangannya -ahh abaikan kalau saya tak seberuntung itu :p

Di awal bulan Januari saya dikabari bahwa ibu (begitu saya memanggilnya mengingat usia beliau) akan datang ke Bali, liburan indah di Indonesia, juga ingin bertemu dengan saya, awalnya saya sempat ragu apakah ibu akan berkenan mengunjungi daerah saya mengingat tiada destinasi wisata semacam Ubud atau kawasan Bali Selatan disini, tapi ya sudahlah, toh meskipun Bali yang saya diami hanya mengandalkan segi pertanian dan peternakan sebagai mata pekerjaan masyarakatnya yg berarti hanya akan ada pohon dan ternak bukan? tapi, bagi kawan jauh hal ini tidaklah akan menjadi soal.

Oke, ibu mengatakan pada saya bahwa di awal Maret beliau akan mengunjungi Bali sebagai tempat liburan pertamanya di Indonesia, Bali dan Ubud hmm.. kedengarannya adalah surga, dan Ubud memang pilihan utama Ibu untuk berwisata dengan tenang disini. Dihari kedua ibu di Ubud, kami berbicara di telfon.. ya.. pertama kalinya. saya katakan bahwa saya akan menjemput Ibu di hari kelima, dan meminta maaf karena kawan sehobi kami yang berdomisili di Kabupaten Gianyar (ubud adalah salah satu Kecamatan di Gianyar) tidak bisa mengunjungi ibu karena satu lain hal dengan agenda kuliahnya 😦

Jadi di hari Kamis malam, saya, anak-anak dan suami berangkatlah ke Denpasar. berkendara 3 jam lamanya cukup menjadikan kami Dora Petualang Jalanan (aduh). Jumat Pagi berangkatlah saya, anak pertama saya-Kirana, adik ipar dan sekalian pacarnya ikut saya ajak agar tambah semarak suasana di Ubud.

Dan tersesatlah kami di ubud, bingung mencari alamat. Ditambah banyaknya jalan satu arah, ruwet rasanya, berbeda sekali dengan jalanan di daerah kami. Tak makan waktu lama tersesat, semangat menggebu mengalahkan rasa sesat (eh..) akhirnya  Horeee sampailah kita di Guesthouse, perkenalkan sahabat pena saya dari Jerman Ibu Barbel Plinke.

Ibu Barbel , saya dan Kirana, Malu-malu kucing anak saya bertemu dengan orang asing pertama kalinya

Ibu Barbel , saya dan Kirana, Malu-malu kucing anak saya bertemu dengan orang asing pertama kalinya

Tak maka waktu lama di Ubud karena saya harus menjemput anak kedua saya – Raveena di rumah Bapak-ibu di Denpasar, dalam perjalanan hal lucu yang ibu katakan pada kami ketika dia selalu salah masuk kedalam mobil, karena di Jerman posisi pengemudi adalah disebelah kiri, maka sebagai penumpang  dia akan membuka pintu disebelah kanan, dan hal sebaliknya terjadi di sini, sangat membingungkan, karena ini kali pertama dia berada di negara yang berbeda arah lalu lintasnya.

sangat membingungkan bagi ibu melihat arah lalu lintas di negara kita.

sangat membingungkan bagi ibu melihat arah lalu lintas di negara kita.

Kurang lebih 40 menit dari Ubud ke Denpasar, sampailah di transit pertama kita, rumah Bapak-Ibu.  Sementara adik harus menyelesaikan satu urusannya dan mengantarkan pujaan hatinya pulang, maka kami mengisi waktu dengan bermain, senangnya anak-anak bermain dengan Nenek Grandma (begitu mereka memanggil), bahasa tarzan memang sangat menggemaskan, apalagi bagi anak anak, lucu melihat mereka bersenda gurau.

Kirana bermain dengan Ibu Barbel dengan Bahasa Tarzan, lucu sekali mereka

Kirana bermain dengan Ibu Barbel dengan Bahasa Tarzan, lucu sekali mereka

Petualangan ke Bali Barat dengan Ibu Barbel akan diceritakan selanjutnya …  Menjadi Dora Petualang Bali Barat dengan segala keunikan Bali disini yang berbeda dari Bali sebagai destinasi Wisata .. sampai jumpa lagi …..

Berburu Pakaian!

Kalau yang lain adalah shooping maka untuk saya lebih tepat berburu pakaian, kenapa? karena pakaian yang saya beli biasanya masih dalam satu bendel karung besar hahaaaa…

Saya suka pakaian seken (bekas) karena alasan pertamanya adalah, dulu sewaktu kuliah dengan ekonomi keluarga yang pas-pasan kakak menyarankan saya untuk membeli beberapa potong kemeja dan celana panjang denim di toko baju seken langganan dia di di daerah Pekambingan – Denpasar, depan Taman Budaya Denpasar dan  Jl. Pulau Kawe, setelah berputar-putar akhirnya saya memutuskan berburu di Pekambingan, berbekal uang dua ratus ribu yang saya dapat dari kakak, saya sukses menggondol 2 celana panjang denim yang jelas modelnya tidak ‘saat ini’ banget, 5 potong kemeja yang sepertinya langsiran tahun 60 atau 70-an. Kata kakak dengan uang segitu saya sudah dianggap sukses berburu, ah itu karena mungkin karena saya pasang wajah susah jadi dikasi aja sama si mpunya toko (saya tidak bisa menawar dengan beradu mulut, jadi lebih sering pasang mimik aja- hiiii). Oya untuk masalah mencuci jadi tantangan tersendiri bagi saya, karena semua pakaian mesti direbus, kemudian direndam dengan sabun cuci baru dikeringkan dibawah terik matahari (kalau pas musim hujan terpaksa diangin-angin saja) dan tidak lupa saya setrika dengan rapi.

Alasan kedua karena selera berbusana saya yang tidak pernah mengikuti jaman, saya sangat suka dengan aliran fesyen dari tahun 50-60an. Karena saya rasa dijaman itu semua perempuan berpakaian dengan cantik dan anggun setiap harinya. Ah…. tapi saya rasa ini alasan yang kurang kuat sih, alasan ketiga saya rasa akan menjadi alasan yang pantas untuk saya nomer dua-kan, alasannya adalah karena potongan saya yang yang kurus tinggi, pinggang saya kecil pula, pinggul juga kecil, jadi saat saya berburu pakaian saya harus benar-benar memilih busana dari era 50-60-an yang pastinya potongan pakaian-pakaian itu akan mendekati potongan saya. Ha! Kebanyakan baju dari Korea, Jepang atau Tiongkok yang saya sukai karena kebanyakan ukurannya pas dan artinya saya tidak perlu mengeluarkan uang ekstra untuk mengecilkan baju (hemat kan?).

Sampai sekarang saya masih suka berburu walaupun tidak serajin dulu karena tempat tinggal saya yang jauh, tapi sekarang tempat berburu saya bisa agak sedikit ‘modern’, dimana pakaian sudah digantung, dipajang dengan apik dan pastinya merupakan barang- barang pilihan si pemilik lapak (meskipun agak mahal jadinya),sudah dicuci dan diberi pengharum, tidak seperti dulu yang saya cuma dihamparkan di lantai ditumpuk jadi satu dan baunya khasnya ahhh…apek!

Pasar kodok di daerah Tabanan adalah tempat yang sekarang ini sering saya singgahi,  karena jaraknya yang cenderung lebih dekat dari rumah saya ketimbang saya harus berburu ke Denpasar. Tempat ini sangat terkenal dikalangan pecinta barang seken, kalau kalian juga suka berburu.. mari mampir kapan-kapan.. tapi jangan sampai kalap ya 🙂

Kerlap-Kerlip lampu kota

Kelip-kelip dari jauh hamparan lampu kota, deretan lampu nelayan juga kelihatan jelas berjejer di cakrawala. Ah, pemandangan ini tidak terlihat dari rumah saya -dari kebun kami baru bisa terlihat- dari rumah beberapa tetangga saya juga bisa terlihat (tapi sayang mereka seakan tidak menikmati, malah rumahnya tidak menghadap hamparan indah itu, ah… sayang sekali)

Lupa sejak kapan tepatnya saya suka dengan hamparan kerlap-kerlip ‘kunang-kunang’ kota, mungkin karena terobsesi dengan lagu bintang kecil? atau karena hasrat naik pesawat terbang pada malam hari sambil melihat kebawah dengan senangnya tak pernah tercapai karena takut terbang? atau karena .. ah sepertinya semuanya benar tapi yang jelas karena pilihan hidup saya ada disini.

Dusun saya kecil, walau begitu jalannya bagus dan mulus tanpa ‘jerawat’ . Jam 8 malam sudah jarang kendaraan berseliweran di jalan, nyanyian jangkrik krikk..krikkkk… tak pernah absen, oya pernah satu hari teman suami saya cerita kalau kami begitu beruntung bisa melihat banyak bintang dilangit, karena dari Kota besar tempat dia berasal, langit cenderung buram, tidak cerah, polusi mengaburkan pemandangan, jadi jangan harap bisa melihat bintang. Pernyataan dia menyadarkan saya bahwa hal yang biasa bagi kami bisa begitu luar biasa bagi orang lain, memang Tuhan selalu menyentuh kita dengan caranya untuk selalu bersyukur dan mulailah dengan hal-hal kecil.

Saya tahu setelah saya menikah, saya akan tinggal di dusun ini karena suami saya yang sangat ingin meneruskan pekerjaan orangtuanya menjadi Petani. Tidak pernah ragu untuk saya katakan “ya, kita akan tinggal di dusun kecil kamu”, karena Ibu saya selalu berpesan bahwa plihan hidup ada ditangan kita, jadi biarlah orang mengganggap aneh atau merendahkan kita kelak, karena itulah kita. Jadilah apa adanya …….

Ya, jadilah sekarang saya disini, di dusun kecil ini, dusun terujung dari desa saya. Memulai kehidupan baru bersama keluarga kecil saya dan menikmati semua keindahan Tuhan dari alamnya.

IMG_20150125_190444